Senin, 26 Oktober 2009

Niaga Sapta peroleh kontrak angkutan batu bara

JAKARTA: Perusahaan pelayaran PT Niaga Sapta Samudra meraih kontrak pengangkutan komoditas batu bara selama 10 tahun dari PT Energy Transporter Indonesia.Direktur Utama PT Niaga Sapta Samudra L. Sudjatmiko mengatakan perseroannya memiliki 14 kapal jenis tug and barge untuk angkutan batu bara dengan kapasitas rata-rata 8.000 ton per unit."Kami baru mendapatkan kontrak angkutan batu bara dari PT Energy Transporter [grup PT Arutmin Indonesia] untuk pengiriman ke sejumlah PLTU di Indonesia, guna mendukung proyek 10.000 megawatt," katanya kepada Bisnis, baru-baru ini.Dia menuturkan perusahaannya akan menggunakan semua armada untuk mendukung distribusi batu bara milik Grup Arutmin itu ke sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Tanah Air."Kami siap menyediakan armada yang dibutuhkan oleh Energy Transporter Indonesia guna memastikan kebutuhan batu bara pada sejumlah PLTU nasional siap dipasok sesuai dengan kesepakatan," ujarnya.PT Energy Transporter Indonesia adalah perusahaan yang tergabung dalam grup PT Arutmin Indonesia. Arutmin tercatat sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia yang memproduksi 15,83 juta ton batu bara pada 2008.Energy Transporter meraih kontrak untuk memasok kebutuhan batu bara pada sejumlah PLTU di Indonesia sebanyak 9,7 juta ton sehingga memerlukan armada dalam jumlah besar.Sudjatmiko menjelaskan kendati memastikan mendapatkan kontrak yang memerlukan kapal dalam jumlah banyak, pihaknya belum berencana menambah armada pada tahun ini karena ketersediaan kapal batu bara di pasar domestik sudah melebihi kebutuhan.Menurut dia, jumlah kapal angkutan batu bara domestik yang sudah mendekati 1.000 unit telah melampaui estimasi kebutuhan nasional, menyusul belum beroperasinya sejumlah pembangkit listrik yang awalnya ditargetkan bisa beroperasi tahun ini.Bahkan, jumlah kapal berkapasitas angkut besar jenis handymax dan panamax semakin banyak seiring dengan masuknya sejumlah armada berbendera Merah Putih yang kembali menggarap pasar domestik."Seharusnya operator armada berkapasitas angkut besar menggarap angkutan ekspor yang saat ini masih dikuasai asing, bukan domestik," katanya.Berdasarkan data Indonesian National Shipowners' Association (INSA), kapal batu bara jenis panamax yang beroperasi di Indonesia saat ini sebanyak 15 unit yang dioperasikan oleh lima perusahaan, sedangkan handymax sebanyak 13 unit yang dikuasai oleh tujuh operator.Adapun, operator tongkang batu bara sebanyak 89 perusahaan dengan jumlah armada mencapai 974 unit. Jumlah itu dipastikan bertambah setelah sekitar 50 tug and barge yang sebelumnya mengakut pasir di Singapura kembali ke Indonesia.(Tularji/BisnisIndonesia/rs)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar