Rabu, 24 Maret 2010

Naik, Jumlah Pelaut Indonesia di Singapura

Naik, Jumlah Pelaut Indonesia di Singapura

Oleh S. Rusdi, Singapura

Jumlah pelaut Indonesia yang sign-in (naik-kapal) di Singapura untuk bekerja di negara itu maupun ke negeri lain menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun.

Data yang diperoleh dari kantor Atase Perhubungan, Kedutaan Besar RI (KBRI) di Singapura, mengungkapkan hingga semester pertama tahun ini (Januari-30 Mei) jumlah pelaut Indonesia yang sign-in di Singapura mencapai 2.029 orang.

"Kami optimis jumlah pelaut yang sign-in akan bertambah hingga akhir tahun ini. Jika tidak, kami memperkirakan angkanya akan sama dengan statistik tahun lalu," Capt Ferry Akbar, asisten Atase Perhubungan KBRI Singapura, mengungkapkan beberapa waktu lalu.

Pada 2007, jumlah pelaut Indonesia yang sign-in di Negeri Singa itu mencapai 4.100 orang. Pada 2006, pelaut yang sign-in hanya mencapai 1.603 orang. Pada 2005 dan 2004, jumlah pelaut yang sign-in masing-masing berjumlah 1.051 dan 442 orang.

Peningkatan itu, menurut Ferry, disebabkan oleh makin tingginya permintaan akan pelaut Indonesia oleh operator kapal di Singapura menyusul menurunnya suplai pelaut dari Filipina, Banglades, Cina dan negara pengekspor pelaut lainnya.

"Pelaut kita paling banyak dibutuhkan untuk mengawaki kapal bunker dan feri. Tapi, ada juga pelaut kita yang bekerja di atas kapal pengangkut kontainer, LPG dan lainnya," katanya.

Dia menambahkan pelaut yang bekerja di atas kapal bunker dan feri trayeknya hanya seputar Singapura, Batam, dan Tanjung Pinang. Sementara, yang bekerja di atas kapal kontainer dan LPG berlayar keliling dunia.

Sementara itu, jumlah pelaut yang sign-off (turun-kapal) di Singapura periode Januari-30 Mei tahun ini berjumlah 92 pelaut. Pada 2007, angka itu berkisar 944 orang. Dalam periode tiga tahun sebelumnya, jumlah yang sign-off masing-masing 70 orang (2006), 5 orang (2005), dan 11 orang (2004).

Sebagai konsekuensi naiknya jumlah pelaut yang sign-in, perpanjangan buku pelaut (seaman book) di kantor Atase Perhubungan KBRI Singapura juga mengalami peningkatan yang signifikan.

Dalam periode yang sama (Januari-Mei 2008) 609 buku pelaut telah diperpanjang di Atase Perhubungan Singapura, naik lebih dari 350 persen dari tahun 2007. Pada tahun lalu perpanjangan buku pelaut hanya mencapai 173 eksemplar.

Pada 2006 jumlah pelaut yang memperpanjang buku pelautnya di Atase Perhubungan KBRI Singapura mencapai 355 orang. Periode 2005 dan 2004 jumlahnya masing-masing 76 dan 62 orang.

Di samping perpanjangan seaman book, Atase Perhubungan juga telah melayani penggantian buku. Angka penggantian buku yang paling tinggi terjadi pada 2007, yakni 378 eksemplar. Semester pertama tahun ini Atase Perhubungan telah mengganti 172 buku pelaut. Alasan pelaut mengganti seaman booknya terbanyak disebabkan oleh kehilangan.

Seaman book adalah dokumen yang berisi semua catatan penting seorang pelaut seperti ijazah kepelautan, sertifikat keterampilan yang dimiliki serta rupa-rupa catatan lainnya. Buku ini dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan.

Biaya murah

Selain disebabkan oleh tingginya permintaan terhadap tenaga kerja pelaut Indonesia, prestasi positif yang dicapai oleh Atase Perhubungan selama dua tahun belakangan ini juga diakibatkan oleh murahnya biaya yang dikenakan kepada para pelaut.

"Keputusan untuk menurunkan biaya pengurusan dokumen-dokumen tadi ditetapkan oleh duta besar dan mulai diterapkan sejak 21 Maret 2007 lalu," kata Ferry.

Dituangkan dalam surat keputusan (SK) Kepala Perwakilan No 016/SK/KEPPRI/III/2007, biaya pengurusan sijil/sertifikat sign-in menjadi S$10/dokumen, sijil sign-off S$5/dokumen, penggantian buku pelaut S$40/buku dan perpanjangan buku pelaut S$5/buku. Sebelumnya, biaya untuk semua dokumen itu berkisar dari S$50 hingga S$100.

Semua pendapatan ini masuk ke kas negara sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan dapat diketahui oleh publik dengan mengunjungi situs www.kbrisingapura.com.

"Pembayaran semua biaya tersebut tidak langsung diserahkan kepada Atase Perhubungan, tapi dibayarkan kepada kasir KBRI. Jadi, tidak ada transaksi maupun uang yang diterima oleh staf Atase Perhubungan," ungkap alumnus AIP yang baru bergabung ke dalam jajaran KBRI Singapura pada Agustus 2007 lalu itu.

Atase Perhubungan juga melayani operator kapal berbendera Indonesia yang ingin memperbarui berbagai sertifikat keselamatan kapal jika kebetulan kapal mereka melayari trayek Singapura. Atau, ingin melakukan reparasi di berbagai galangan yang ada di sini.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar